MARUYUNG – Yayasan Manggala Putera Rumah Alifa, sebuah lembaga sosial dan kesehatan, sukses menyelenggarakan Seminar Awam bertajuk “Anak Istimewa, Masa Depan Berharga: Mengenal dan Mendukung Tumbuh Kembang Anak Disabilitas”. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (23/09/2026) di Pondok Pesantren Al-Istiqomah Maruyung ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, serta kepedulian masyarakat terhadap tumbuh kembang anak-anak berkebutuhan khusus.
Diinisiasi atas dasar pemikiran bahwa setiap anak berhak atas masa depan yang berharga, seminar ini mengupas pentingnya peran orang tua dan lingkungan sosial dalam memahami serta menerima keberadaan anak disabilitas dengan pendekatan kasih sayang dan keilmuan.
Founder Rumah Alifa, Hj. Emma Siti Maryamah Imron, S.Hum, M.Pd, menegaskan komitmen lembaga dalam mendampingi anak-anak penyandang disabilitas agar mendapatkan hak dan kesempatan yang setara. Senada dengan hal tersebut, Ketua Acara dr. Nuneng Rinensa Sushandani menyampaikan bahwa edukasi kepada masyarakat umum merupakan langkah vital untuk menghapus stigma negatif dan diskriminasi yang selama ini kerap dialami oleh anak berkebutuhan khusus.
Hadir sebagai pembicara utama, Dr. dr. A. Azis Asopari, Sp.A, M.Kes, MM.Kes., memaparkan bahwa fase kanak-kanak adalah periode fundamental dalam pembentukan fisik, kognitif, bahasa, sosial, hingga kemandirian. Oleh karena itu, deteksi dini dan intervensi yang tepat sangat menentukan masa depan anak.
“Semakin cepat hambatan perkembangan dikenali, semakin cepat pula anak memperoleh stimulasi, penanganan, serta bantuan profesional yang sesuai. Kita ingin mendorong agar orang tua tidak ragu berkonsultasi jika menemukan indikasi keterlambatan atau hambatan perkembangan pada anak,” terangnya dalam pemaparan materi.
Melalui seminar ini, terdapat beberapa poin utama yang ditekankan kepada masyarakat dan orang tua:
Pentingnya Deteksi dan Intervensi Dini: Memahami indikator tumbuh kembang sesuai usia anak agar penanganan medis maupun edukatif dapat dilakukan lebih awal.
Peran Kunci Keluarga: Keluarga merupakan lingkungan utama dalam memberikan penerimaan, rasa aman, dan stimulasi tanpa membanding-bandingkan kondisi anak dengan anak lainnya.
Lingkungan Inklusif Bebas Stigma: Mengajak masyarakat menciptakan ruang yang ramah, menghargai keberagaman kemampuan, serta membuka kesempatan bagi anak disabilitas untuk bersosialisasi secara optimal.
Kolaborasi Multisektor: Membangun kerja sama yang terpadu antara keluarga, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, dan lingkungan sekitar demi pendampingan anak secara berkelanjutan.
Penyelenggara berharap kegiatan edukasi semacam ini dapat mengubah sudut pandang masyarakat umum, sehingga keterbatasan fisik maupun kognitif yang dimiliki seorang anak tidak lagi dipandang sebagai penentu masa depannya. Dengan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat, setiap “anak istimewa” diharapkan mampu berkembang secara optimal, mandiri, dan meraih masa depan yang bermakna.
















