BANDUNG — Universitas Al-Ghifari (Unfari) sukses menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana ke-XXII yang bertempat di The Trans Luxury Hotel, Kota Bandung. Pada wisuda periode ini, Unfari meluluskan sebanyak 454 wisudawan dari 6 fakultas dan 9 program studi.
Acara tersebut turut dihadiri oleh perwakilan dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) serta Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar yang hadir mewakili pemerintah daerah.

Cetak Lulusan Unggul, Berintegritas, dan Siap Hadapi Tantangan Zaman
Rektor Universitas Al-Ghifari, Prof. Dr. H. Didin Muhafidin, S.I.P., M.Si., menyampaikan bahwa tema utama wisuda kali ini adalah mencetak lulusan kampus yang unggul, berintegritas, serta adaptif. Menurutnya, keunggulan dalam berkarya, bekerja, berinovasi, dan berkreasi harus selalu dilandasi oleh integritas moral yang kuat.
”Percuma saja kalau unggul dalam berkarya, apalagi sampai berinovasi, tetapi tidak berintegritas,” tegas Prof. Didin.
Dalam sambutannya, Sekda Jabar juga berpesan agar para alumni Unfari dapat mandiri dan tidak menjadi beban pengangguran baru di tengah angka pengangguran yang masih tinggi, melainkan mampu menjadi pencipta lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Apresiasi untuk Mahasiswa Berprestasi
Dari ratusan wisudawan yang hadir, terdapat apresiasi khusus bagi para mahasiswa berprestasi mulai dari juara tingkat fakultas hingga universitas. Lulusan terbaik yang dinobatkan sebagai Wira Ghifari Utama tercatat memiliki prestasi luar biasa di kancah nasional, di antaranya:
- Meraih Juara 1 Nasional Olimpiade Matematika.
- Meraih Juara 1 Nasional Olimpiade Kimia
- Meraih Juara 1 Tingkat Nasional Olimpiade Biologi.
Bagi para alumni yang ingin melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana (S2 Manajemen) di Universitas Al-Ghifari, pihak kampus telah menyiapkan program khusus berupa potongan harga atau diskon khusus alumni.
Pesan Khusus di Era Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)
Menghadapi era disrupsi teknologi dan maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI), Prof. Didin mengingatkan para wisudawan agar tetap bijak dan berhati-hati. Ia menilai bahwa teknologi AI seringkali menjebak, seperti dalam penulisan karya ilmiah atau skripsi yang kini juga telah dilengkapi dengan sistem pelacak khusus AI.
Oleh karena itu, beliau menyarankan agar para lulusan tetap mengandalkan kreativitas serta referensi mandiri, dan hanya menggunakan AI sebatas alat bantu sekadar untuk pengolahan data.
”Harapan kami, wisudawan tidak sekadar mencari pekerjaan, tetapi justru mampu mandiri dan memberikan lapangan kerja baru bagi masyarakat luas,” pungkas Prof. Didin menutup wawancara.


















